DIBALIK PESONA SURGA - 1. Berita Lara - Sewa Pickup Murah Jogja

Rabu, Oktober 18, 2017

DIBALIK PESONA SURGA - 1. Berita Lara


DIBALIK PESONA SURGA
           1. BERITA LARA



           15 MEI 2009, matahari menggelincir ke sisi barat garis equator bagai pasukan tempur mundur mengatur siasat dan strategi, seperti bunga putri malu yang tersentuh makhluk lain lalu otomatis menguncupkan daunnya secara perlahan.



           Pancaran sinar menjalar-jalar menurun redup terhalang belahan diagonal bumi, mirip lidah ular kobra, berbisa, mengendus-endus daerah sekitarnya mencari mangsa. Kutengok keluar dan kulihat bayangan sudah mulai lebih panjang dari benda sebernarnya.

           Terik matahari tak lagi membakar atmosfer dan karbondioksida bertebaran, membuat cuaca di bumi mencapai suhu 34 derajat Celcius. Bu Sri, tetangga depan rumah duduk berduaan dengan suaminya di kursi sofa yang sudah usang, busanya jebol.

           Aku bercengkerama dengan dua anakku, anak kedua dan ketiga. Udara hangat radiasi dari terik tengah hari. Aku hanya mengenakan sarung yang kugulung-gulung pendek dan kaos singlet agak kusam yang terkikis oleh waktu dan zat asam kandungan keringat.

          Kududuk bersandar tembok menonton film kartun Tom and Jerry di salah satu stasiun televisi swasta pilihan anak perempuanku, Rahma. Aku dan kakaknya mengikuti saja, sebab kalau channel dipindah, Rahma akan menangis.

          Aku kadang tiduran di lantai mencari refleksi dingin dari keramik di saat aku kegerahan. Ruang tamu rumah kontrakanku di Bekasi berukuran 3 m x 8 m, berkeramik putih ukuran 30 cm, sudah ada yang pecah beberapa buah.

         Lantai teras depannya berkeramik merah marun, tak begitu luas, hanya sekitar 2 m x 6 m. Dinding depan sebelah kiri dipasang keramik warna biru gelap. Atapnya tak seberapa tinggi.

         Plafonnya terbuat dari anyaman bambu yang biasa di sebut kepang atau bilik oleh orang Jawa. Plafon ini tidak tinggi sehingga bisa dijangkau dengan lambaian tangan Beberapa bagian sudah berlubang akibat tetesan air hujan karena genteng yang bocor atau gigitan tikus.

         Pagar dengan jari-jari beton ala eropa menutup teras depan dan samping, berbentuk huruf "L'. Tonggak mangga bertengger di timur laut sudut halaman. Pohon jambu air tumbuh subur persis dekat teritisan, tempat jatuhnya air dari atap.



         Bekas kolam berbentuk persegi panjang berada di ba gian barat daya halaman rumah. Kolam ini sudah tidak dipa kai. Kutak tahu kolam ini digunakan untuk apa sebelumnya karena ketika aku pindah ke rumah ini, kolam sudah dalam keadaan kosong dan kering.

         Tiga kamar berderet bergandengan. Tak ada kursi tamu. Meja belajar anakku berwarna pink yang kubeli dua tahun sebelumnya berdiri menempel tembok samping. Lemari buffet kepunyaan pemilik rumah berada di belakang, menghadap ke ruang tamu.

         Lemari tv kutempatkan menempel ke dinding kamar bersandingan dengan meja tv buatan tetangga. Ornamen berbentuk kipas ala tarian Bali dipasang di tembok paling depan, berjajar dengan gambar candi Borobudur yang di pahat di rangkaian lembaran bambu.

          Dua jendela lebar yang sedang ngetren dipasang di samping dan di depan, membuat ruangan terang karena sinar matahari bisa menerobos celah-celah kaca nako dan kaca lebar. Kupasang gorden warna merah di setiap kaca.

          Ketika itu, istriku tidak ada di rumah. Ia sedang ke tetangga depan rumah, Bu Ajiz, mengantar baju yang hendak dijahitkan. Bu Ajiz adalah penjahit langganan keluarga, kalau ada baju atau celana yang sobek selalu dijahitkan kepadanya.

           Aku terhanyut dengan cerita Tom and Jerry yang mulai seru karena kejar-kejaran saling membalas perbuatan. Tom yang sedang mengejar Jerry menginjak papan kemudian papan itu menghantam mukanya sehingga membuatnya pusing dan jatuh terkapar.

          Kepala Tom serasa putar-putar Hidungnya memerah akibat benturan papan. Sementara Jerry yang menyaksikan kejadian dari tempat persembunyiannya tertawa kecil sambil iku kanannya bersandar ke tembok dan telunjuk tangan kanannya menempel di bibir bawah.

          Tidak lama kemudian, Tom sadar dan bangkit. Ia ber- usaha mengejar Jerry dan ingin membalas kejengkelannya dengan membawa sepotong kayu. Ia berlari kencang dan sesekali ia memukul Jerry, tapi meleset. Tak mau kehilangan buruannya, ia pun terus mengejar.

          Saat Jerry hampir tertangkap, telepon genggamku berdering. Kulihat layar seukuran 3 x 4 cm, muncul tulisan "Om Pri memanggil'. Adik kandungku menelepon. Kutekan tombol 'OK. Ia mengabarkan bahwa ibuku dirawat di RSUD Dr R. Soetrasno, Rembang, Jawa Tengah.

          la bilang bahwa Ibu stroke. Mendengar kabar tersebut aku tak mampu bicara. Aku bengong. Beberapa detik, hampir satu menit, kutak menjawab obrolan adikku. Adikku memanggil manggil, memastikan apakah aku masih on atau off.

          Aku tergagap menjawab pertanyaannya. Kedua anakku masih asyik dengan Tom and Jerry nya. Mereka kadang tertawa melihat kelucuan dua binatang yang selalu bermusuhan itu. Mereka tidak memedulikan pembicaraanku.



         Belum selesai aku bercakap dengan adikku, istriku pulang dari rumah Bu Ajiz. Ia membawa tas kresek hitam berisi baju anakku yang baru saja dijahitkan. la taruh bungkusan itu di meja belajar kemudian duduk, ikut menonton Tom and Jerry.

         Diam-diam ia memperhatikan pembicaraanku di telepon. Selesai telepon, ia bertanya kepadaku siapa yang tadi telepon. Aku bilang, "Prio, menelepon.” Kusampaikan kepa danya bahwa ibuku stroke dirawat di RSUD Rembang.

         Istriku kaget. Ia menyuruhku segera menjenguk. Aku berdiskusi dengan istriku bagaimana baiknya karena sekolah tempatku mengajar tidak libur. Proses pembelajaran masih berlangsung.

         Lembaga pendidikan tempatku bertugas terkenal disi plin dan agak kaku. Saking disiplinnya, pernah ada kejadian dengan dalih berjuang dan beribadah, sampai-sampai ada temanku yang tak diizinkan menengok anaknya yang sakit hingga anaknya meninggal dunia.



         Aku sedikit ragu, bisakah aku diberi izin untuk menengok ibuku? Kubilang kepada istriku bahwa besok aku akan izin ke Rembang. Ia mengiyakan rencanaku. Keesokannya aku menghadap pak kyai dan alhamdulillah, aku diizinkan.

        Siang harinya, aku diantar istriku ke stasiun kereta Bekasi menggunakan sepeda motor Honda Grand keluaran 1997. Jarak tempat tinggalku ke stasiun tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1,5 kilometer. Tak perlu waktu yang lama untuk sampai tujuan, hanya tujuh sampai sepuluh menit.

        Jalan gang itu sudah diaspal hot mixed, sehingga hujan tak takut becek dan kemarau tak takut ngebul, berdebu. Selain itu, juga membuat pengendara motor merasa nyaman karena tidak banyak geronjalan atau jalan berlubang.

        Kujalankan motor pada kecepatan sedang dengan penuh kehati-hatian karena di jalan gang. Sesekali kumenyapa tetanggaku yang kebetuluan duduk di depan rumah melihatku melintas. Kadang mereka yang lebih dulu menyapaku dan bertanya aku akan ke mana.

        Pertanyaan mereka tak sempat kujawab karena aku sedikit tergesa-gesa. Aku hanya melambaikan tangan sambil bersenyum, demikian juga istriku. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan gang ketika itu, hanya anak anak kecil yang bersepeda.

        Keluar jalan gang, aku tambah kecepatan laju motorku Kutak ingin ketinggalan kereta karena aku belum membeli karcis. Kanan kiri jalan raya dipenuhi aneka toko. Ada toko bangunan, makanan, dan swalayan.

        Di ujung alun-alun kecamatan, di sisi utara, berderet dan berjejer warung yang menawarkan serta menyajikan beragam kuliner juga berbagai toko elektronik. Meskipun kota kecamatan namun ramai pertokoan yang menawar kan berbagai barang jualan.

        Seratus meter ke barat alun-alun terdapat pasar tradisional berseberangan dengan stasiun kereta. Becak dan motor ojek diparkir berbaris di halaman stasiun bagai mobil yang sedang dipajang di showroom dealer resmi.

        Pemilik motor nongkrong nebeng duduk di becak dan sebagian sedal sedul menghisap rokok di kursi ruang tunggu penumpang. Sambil ngobrol kesana kemari, menunggu penumpang. Pedagang asongan bergerombol, ada juga yang mondar-mandir menjajakan dagangannya.

        Tiga orang ibu yang sudah berusia kepala lima duduk bersebelahan menunggui aneka minuman dan nasi bung kusnya masing-masing. Pakaian sedikit lusuh dan rambut tak terlalu rapi menunjukkan mereka berjualan dari pagi.

        Kuparkir motor bututku di halaman, dekat motor para tukang ojek. Seorang tukang parkir menghampiriku, merogoh tas pinggang hitam yang sudah robek pinggirnya, mengambil sepasang kartu parkir kemudian memberikan nya kepadaku dan satunya diselipkan ke stang motor.



        Kutaruh kartu parkir ke saku celana kiri. Aku bersama istriku berjalan berdampingan menuju loket. Tak banyak orang yang mengantre. Hanya ada tiga orang berdiri menunggu pembayaran dan uang kembalian.

        Kuperhatikan beberapa calon penumpang duduk memegangi barang bawaan sambil menunggu kereta tiba. Sebagian mereka ada yang tiduran karena kelamaan menunggu dan kelelahan. Sebagian lagi berbincang dengan sesama calon penumpang.

        Beberapa orang calon penumpang kereta mengantre di depan loket untuk mendapatkan tiket. Seorang petugas tampak melayani dengan ramah dari balik kaca yang berlubang selebar sekitar sepuluh sentimeter yang di depannya terpasang satu set komputer.

        Saat tiba giliranku, kubilang kepada petugas satu tiket GBM Selatan turun Semarang. Petugas loket menambahkan bahwa kereta Kertajaya akan tiba di stasiun tersebut jam 16.00 dan Tawang Jaya jam 22.00. Aku tak peduli kereta apa yang penting aku bisa berangkat.

        Kulipat tiket yang baru saja kudapat dan kumasukkan ke saku baju. Kutinggalkan loket tiket kemudian berjalan ke kursi tunggu, diikuti istriku dari belakang. Kududuk ber dampingan dengan istri menunggu kereta tiba.

        Dua puluh menit kemudian petugas stasiun bagian informasi mengumumkan melalui loud speaker bahwa kereta GBM akan memasuki stasiun Bekasi. Calon penumpang GBM agar segera mempersiapkan diri di jalur dua.

        Aku beranjak dari tempat duduk di kursi tunggu dan berjalan menuju jalur dua, bersiap-siap menyambut kedatangan kereta. Dari arah barat tampak deretan gerbong yang ditarik lokomotif melaju pelan-pelan, kemudian berhenti tepat di stasiun.

        Para calon penumpang yang dari tadi menunggu pun bergegas naik kereta. Tampak mereka berebut untuk bisa masuk duluan. Aku berjalan mencari pintu lain yang sepi penumpang. Kudapatkan pintu masuk di gerbong lima.

        Aku segera naik. Istriku berdiri memandangiku dari depan pintu masuk untuk memastikanku berangkat. Ia kemudian pindah tempat, berjalan ke samping untuk melihatku dari balik jendela dan memastikan aku sudah duduk atau belum.

        Kuberjalan mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket, 9C/5. Aku bersyukur karena aku masuk pada gerbong yang tepat, sehingga aku tak perlu pindah gerbong. Kutaruh tasku di tempat penyimpanan barang yang ada di sisi kanan kiri tempat duduk, kemudian aku duduk.

        Kulihat keluar dan tampak istriku melambaikan tangan. Kubalas lambaiannya dengan senyum. Beberapa saat setelah itu kereta pun mulai bergerak dan melaju.
         

        Sekitar jam 03.00 pagi aku tiba di stasiun Poncol, Semarang. Hari masih gelap tapi tidak di area stasiun. Lampu neon berbagai ukuran bergelantungan seumpama kalong, binatang malam yang bernama lain kelelawar, di beberapa titik, menerangi mengganti sinar alam, matahari.

        Setelah turun aku langsung ke WC umum berpura-pura buang air kecil, padahal aku sekadar cuci muka dan tangan. Ini kulakukan untuk menghindari sopir taksi dan tukang ojek yang mengerubutiku menawarkan jasa.

        Aku tidak memedulikan orang sekitar Pedagang asongan yang menawarkan minuman dan rokok tidak kuhiraukan. Toko kue dan oleh-oleh di sepanjang sisi stasiun hanya kupandang sekelebat. Aku cuek, berlagak tidak butuh.

        Kubasuh mukaku untuk membersihkan debu, asap rokok, keringat, dan tahi mata yang menempel kemudian aku keluar. Kurogoh saku celana kananku dan kutarik uang kertas ribuan. Kulipat tipis dan kumasukkan ke lubang kotak yang lebarnya sekitar empat sentimeter.

        Seorang sopir taksi menghampiri dan menanyaiku akan ke mana. Kujawab, "tidak.” Menghadapi orang seperti mereka kadang mesti tegas, tidak tampak culun dan sedikit bergaya tapi tidak sombong. Sikap seperti ini perlu juga, terutama ditempat keramaian agar tidak menjadi "sasaran".

        Jujur saja penawaran jasa yang tampak memaksa membuatku sebal. Untuk menghindarinya, aku berjalan keluar halaman parkir mencari kendaraan yang bisa mengantarku ke terminal Terboyo, Semarang.

        Becak dan mini bus angkutan kota yang muat 10 orang sudah berbanjar menunggu penumpang. Di seberang jalan, berbaris taksi menghadap arah yang sama dengan angkutan umum karena satu jalur. Aku menyebrang jalan mendekati taksi warna putih yang tampak lebih mulus dan terawat.

       Kupikir kendaraan seperti itu biasanya sopirnya hati-hati dan kendaraannya pun nyaman untuk ditumpangi. Kubilang kepada sang sopir untuk mengantarkanku ke terminal. Agar tidak terjebak, kutawar ongkosnya. Setelah sepakat, barulah aku naik dan taksi pun berjalan.

       Taksi melaju di kesunyian pagi yang sudah mulai terusik oleh kokokan ayam jago dan para pedagang sayuran yang sedang pergi ke pasar saling bersusul-susulan. Kusandarkan kepalaku ke jok karena masih merasa mengantuk.



       Sesekali mataku terbuka ketika sopir mengerem karena menghindari jalan berlubang. Kuperhatikan samping jala, kadang kutemui rumah penduduk yang padat, gang kecil, pertokoan, rumah mewah, dan perkantoran.

       Mendekati terminal bus, aku terbangu. Aku sudah agak paham lingkungan terminal karena seringnya bepergian dari terminal ini, Aku mulai mengobrol dengan pak sopir menanyakan asal dan sudah berapa lama ia menggeluti profesinya.

       Tidak lama kemudian kelihatan papan nama bertuliskan dengan huruf kapital berbunyi "TERMINAL BUS TERBOYO SEMARANG". Kuliihat bus Indonesia jurusan Semarang-Surabaya mangkal di depan samping pintu terminal. Kubilang kepada pak sopir taksi untuk menurunkanku di depan bus tersebut.

       Kubayar pak sopir sesuai dengan kesepakatan dan kulebihkan lima ribu rupiah sebagai tip. Pak sopir meminggirkan taksinya, menoleh kepadaku, dan mengucapkan selamat jalan. Kubuka pintu taksi dan berterimakasih kepadanya.

       Aku turun persis didepan bus yang sedang ngetem. Aku bergegas naik karena aku yakin bahwa bus tersebut akan ke Surabaya. Sudah menjadi langgananku setiap aku ke Semarang atau ke Rembang selalu naik bus Indonesia.

       Layaknya terminal di tempat lain, terminal ini juga tak ada sepinya. Orang-orang yang memiliki berbagai kepentingan lalu lalang dan mondar mandir. Penjual asongan, penumpang yang sedang menunggu keberangkatan, tukang ojek, sopir bus dan angkutan umum semuanya ada di situ.

        Belum banyak penumpang di dalam, hanya sekitar sepuluh orang. Lama kelamaan kursi di bus hampir dipenuhi penumpang. Kududuk di kursi persis di belakang sopir. Aku pilih kursi tersebut agar leluasa melihat pemandangan.

        Kubertanya kepada penumpang di sebelah kananku kapan bus berangkat dan dimana pak sopirnya. Ia memberitahuku bahwa bus berangkat jam empat dan dia menunjuk seseorang yang sedang ngopi di warung beratap terpal biru di samping bus.

         Setelah tepat jam empat, sopir yang tadi nongkrong di warung nasi naik bus. Kondektur dan kernet yang lebih dulu berada di dalam bus berdiri di pintu depan mengisyaratkan bahwa tidak ada lagi penumpang yang ditunggu.

        Sang kernet berteriak, "Yooo!" Sopir pun menjalankan bus, melaju ke kota tujuan. Kusudah tak sabar. Kuingin segera sampai dan bertemu Ibu yang sedang terbaring lesu.


   Sumber : Buku Di Balik Pesona Surga - 1. Berita Lara ( Arif Y S )


  Semoga Bermanfaat, Jika Berkenan Tinggalkan Comment dan Share Untuk Membantu Yang Membutuhkan Informasi, Terima Kasih.

Artikel Menarik Lainnya:







   Pencarian Terkait : DIbalik Pesona Surga, Berita Lara, Novel, Cerpen, Artikel Keren, 1 Berita Lara, 1. Berita Lara, Cerita Keren, Novel Agama, Novel Religi, Berkenala Religi, Religi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar